Archive for 3 Januari 2014


DUA GADIS YAHUDI MASUK ISLAM

Aisyah-dan-Hanin

Sumber : http://peribadirasulullah.wordpress.com/2013/12/31/dua-gadis-yahudi-masuk-islam/

dakwatuna.com – Al-Quds. Televisi Aljazeera, Ahad (29/12/2013) memuat sebuah wawancara eksklusif dengan dua orang gadis Yahudi Israel yang baru saja mengikrarkan keislamannya di Masjidil Aqsha. Berikut kisah keislaman mereka yang dirangkai dari petikan wawancara tersebut.

Sembuh dari sakitnya, Aisyah, gadis Yahudi berumur dua puluh tahunan ini menjadi ingin mempelajari agama Islam lebih jauh. Renungan saat menderita sakit membuatnya ingin mengenal Islam. Dia pun bergabung dengan Islamic Center Darussalam, selain juga melalui media dan internet.

Pada tahun 2008, beberapa tahun setelah kedatangannya ke Israel, Aisyah mengunjungi salah seorang temannya di daerah Arab, salah satu wilayah Palestina yang dikuasai oleh Israel. Saat pulang dari sana, dia mendapatkan sebuah buku kecil berbahasa Ibrani yang berjudul “Jalan Menuju Kebahagiaan”. Buku itu berisi tentang bukti-bukti kebenaran ajaran Islam.

Disimpannya buku itu tanpa membacanya dan mencoba mengetahui isinya. Beberapa bulan kemudian, Aisyah menderita sakit parah yang hampir-hampir merenggut jiwanya. Untuk mendapatkan ketenangan, dia coba membaca buku kecil tentang kebahagiaan itu.

Aisyah pun mulai tertarik. Dia ingin mengenal Islam lebih jauh. Tanpa rasa takut kepada sesama Yahudi, Aisyah berusaha menghubungi beberapa orang da’i Palestina yang tergabung dalam Islamic Center “Darussalam”. Lembaga ini berada di wilayah Palestina yang dijajah Israel tahun 1948. Setelah enam bulan belajar di sana, Aisyah membulatkan tekad untuk masuk Islam. Dia pergi ke Masjidil Aqsha untuk mengikrarkan keislamannya.

Saat mengisahkan pengalamannya kepada televisi Aljazeera, Qatar, Aisyah menangis tersedu-sedu. Dia tidak bisa mengungkapkan perasaan yang ada dalam hatinya. Dia seakan baru saja diciptakan untuk kehidupan yang baru. Menurutnya, yang menarik dalam Islam adalah pernyataan bahwa tidak ada paksaan untuk memeluk agama ini. Memeluk Islam didasarkan pada sukarela dan keyakinan. Dalam agama ini, seorang hamba juga tidak memerlukan perantara siapapun untuk berhubungan dengan Penciptanya.

Aisyah hidup dengan keluarganya. Keluarga besarnya belum mengetahui kabar keislamannya. Hanya ayahnya yang mengetahui dan mendukung keputusan keislaman itu. Sedangkan ibunya adalah seorang Yahudi fanatik, sangat membenci umat Islam. Kalau ibunya tahu, sangat mungkin dia akan membuka rahasia keislaman Aisyah kepada orang banyak. Sungguh berat mempertahankan Islam di lingkungan Yahudi.

Aisyah semakin memperhatikan bagaimana berpakaian yang menutup auratnya, walaupun belum bisa tega memakai jilbab di depan ibunya. Shalat wajib dilaksanakannya tepat waktu. Malam hari, saat keluarganya tertidur, dihabiskannya untuk shalat dan membaca Al-Qur’an hingga pagi.

Asiyah memohon kepada Allah swt. agar diberi kekuatan bisa menyampaikan keislamannya kepada ibunya. Sudah enam tahun dia menyembunyikan keislamannya. Sudah enam tahun juga dia harus berpura-pura sebagai penganut Yahudi, melaksanakan ritual-ritual dari Talmud. Dia ingin segera sempurna dalam menutup auratnya, ingin melaksanakan shalat dengan bebas tanpa mencuri-curi.

Syukur, Aisyah mempunyai pembimbing di “Darussalam” yang selalu menguatkan dirinya bersama lima orang gadis mantan Yahudi lainnya untuk tetap hidup damai dan tidak bermusuhan dengan keluarga dan lingkungannya. Walaupun menyembunyikan keislamannya, Aisyah bisa menjaga akhlak Islam, dan menjauhi semua hal haram. Kehidupan hura-hura pun dijauhinya. Hal ini mulai memancing kerugiaan teman-temannya. Lambat-laun mereka pun akhirnya tahu.

Diri Aisyah semakin kuat setelah Hanin bergabung bersamanya. Hanin adalah seorang Yahudi Kroasia yang pindah ke Isarel sendirian tanpa keluarganya. Alih-alih menjadi seorang Yahudi pendukung Israel, Hanin tertarik dengan Islam dan menjadi teman Aisyah dalam mempelajari Islam. Hanin menilai bahwa Islam adalah agama yang sempurna dalam memperlakukan wanita. Hanin juga menolak jika Islam diperbandingkan dengan agama lain. Agama lain tidak ada apa-apanya. (msa/dakwatuna/aljazeera)

Redaktur: Moh Sofwan Abbas

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/12/31/44045/dua-gadis-yahudi-masuk-islam-di-masjidil-aqsha/#ixzz2p2wUtAzr

Masjid Hilal

Khatib : Ustaz Zainal Malik

Lokasi : Masjid al-Hilal Tanjung Dumpil Putatan

Pada sisi Allah SWT, kemuliaan manusia terletak pada empat perkara :

Pertama, ilmu yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ilmu membezakan manusia dengan makhluk yang lain. Maka manusia yang berilmu adalah manusia yang takut kepada Allah SWT berdasarkan firman Allah SWT bermaksud : “..Hanya yang takut kepada Allah daripada kalangan manusia ialah para ulamak (orang berilmu)..” (Fathir).

Kedua, iman dan taqwa. Keimanan dan ketaqwaan kepada Allah adalah ciri yang sangat penting. Iman adalah perkara yang berkait dengan keyakinan kepada Allah SWT dan rukun iman yang lain. Taqwa ialah apabila keimanan, syariat dan akhlak semata-mata tunduk kepada Allah SWT. Firman Allah SWT bermaksud : “..Sesungguhnya orang yang paling mulia kalangan kamu ialah mereka yang paling bertaqwa..” (al-Hujurat).

Ketiga, akhlak yang luhur. Rasulullah SAW sebagaimana diceritakan oleh Sayyidatina Aisyah RA bahawa akhlak baginda adalah al-Quran. Rasulullah SAW sendiri bersabda bermaksud : “Hanyasanya aku diutuskan untuk menyempurnakan akhlak yang luhur”.

Keempat, amal soleh. Sifat dan kelakuan orang beriman ialah mereka tidak hanya dengan keyakinan semata-mata tanpa aktiviti yang baik. Kewajiban orang beriman ialah selain keyakinan dan keimanan yang mantap, orang beriman mesti melakukan amal soleh. Amal soleh mesti seiiring dengan keimanan. Firman Allah SWT bermaksud : “Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman, beramal soleh, berpesan dengan kebenaran dan berpesan dengan kesabaran”. (al-Asr)

%d bloggers like this: