Khatib : Ustaz Noh Mudioto

Lokasi : Masjid Qaryah Bukit Pegoh

Dalam Islam melaksanakan ibadah yang paling banyak mengeluarkan tenaga dan biaya adalah ibadah haji. Karena itu ibadah haji ini hanya terbatas bagi setiap muslim yang mampu. Sekalipun ibadah haji itu terasa berat tetapi tetap terasa nikmat, sebab mereka merasa semakin dekat kepada Allah SWT. Pahala ibadahnya pun juga berlipat ganda.  Kerana itu kesempatan besar bagi setiap muslim yang sedang menunaikan ibadah haji di tanah suci, mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan sujud dan taqarrub kepadaNya, sambil berdoa, sebab doa mereka itu dikabulkan oleh Allah SWT.

Di tempat inilah para jama’ah dapat mengadukan permasalahan hidup yang menyangkut dosa dan kesalahan yang pernah dilakukannya dan sekaligus  memohon ampun atas kesalahan dan dosa-dosanya itu kepada Allah SWT; lalu mereka minta diterima ibadahnya, minta keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, dicukupkan rezeki dan ketentraman rumah tangga.

Di tempat ini pula para jamaah tentu merasa sangat haru, bergembira dan bahagia, sebab dapat sujud dan berdiri di dekat Kaabah sambil menatap kebesaran dan keagungan Allah SWT sehingga mereka tidak mampu menahan tangis dan menitisnya air mata yang membasahi pipi mereka, di situlah mereka betul-betul merasa kecil dan tidak berdaya sama sekali di hadapan Allah SWT.

Dalam melaksanakan ibadah haji hendaknya para jamaah haji menghindarkan diri dari amaliyah-amaliyah yang dilarang oleh agama; dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, seperti berbuat keji, fasik, bohong dan lain-lainnya, supaya ibadah hajinya diterima oleh Allah SWT, dan mereka kembali pulang bersih dari dosa. Dengan kata lain mendapatkan haji mabrur.

“Barang siapa melakukan haji tanpa berbuat keji dan tidak fasik, maka dia kembali (tidak berdosa) sebagaimana waktu dia dilahirkan oleh ibunya.”

Bagi saudara-saudara kita yang hendak menunaikan ibadah haji, hendaknya menanamkan niat yang tulus dan ikhlas karena Allah semata, serta semata-mata memenuhi panggilanNya, dan hendaknya berusaha semaksima agar mencapai haji yang mabrur. Karena haji mabrurlah yang bernilai dalam pandangan Allah SWT dan haji mabrurlah yang dianggap haji berkualiti.

“Umrah ke umrah lainnya adalah penghapus dosa antara keduanya. Dan haji yang mabrur tidak ada lagi balasannya kecuali syurga.” (HR. Bukhari Muslim)