Archive for 28 Februari 2012


Sumber : http://www.darulquran.gov.my/

Tajuk asal : MULTAQA HUFFAZ RAI 51 PENERIMA SIJIL TAHFIZ MALAYSIA

17 Februari 2012 – Darul Quran Jakim sekali lagi melakar sejarah penting apabila berjaya menghimpunkan para huffaz seluruh negara dalam program Multaqa Huffaz Peringkat Kebangsaan Kali Ke-2 yang diadakan di Dewan Dato’ Mohd Shahir, InstitutLatihan Islam Malaysia, Bangi.

Antara pengisian majlis tersebut adalah Forum Huffaz yang telah menampilkan Y.Bhg. Tan Sri Dato’ Sheikh Ismail Muhammad, Imam Besar Masjid Negara Kuala Lumpur, Y.Bhg. Prof. Madya Dato’ Dr. Abd Halim Tamuri, dan Y.Bhg. Ustaz Ashraf Hj. Ismail sebagai ahli panel. Manakala Y.Bhg. Dato’ Hj. Zulkifli Ali, Pengarah Maahad Tahfiz Al-Quran Negeri Pahang sebagai moderator.

Majlis Perasmian telah disempurnakan oleh Y.Bhg. Dato’ Haji Othman Mustapha, Ketua Pengarah Jakim. Beliau dalam ucapannya menegaskan Jakim khususnya amat prihatin dan komited bagi memastikan institusi al-Quran terus berkembang dan memberi manfaat kepada masyarakat Islam.

“Jakim juga menyokong usaha-usaha untuk menyediakan pendidikan al-Quran kepada masyarakat dengan memberi bantuan yang diperlukan bagi menjalankan program-program yang berkaitan, terutama program tahfiz al-Quran” menurut beliau lagi. Hadir sama dalam majlis tersebut ialah Tuan Haji Razali Shahabuddin, Timbalan Ketua Pengarah Pembangunan Insan dan Haji Paimuzi Yahya, Pengarah Darul Quran.

Sementara itu bagi mengiktiraf dan menghargai pengorbanan serta jasa bakti dalam bidang tahfiz, Sheikh Mohamad Muhsin Sheikh Ahmad telah dianugerahkan sebagai Tokoh Hafiz Kebangsaan. Manakala seramai 51 penerima anugerah telah menerima Sijil Tahfiz Malaysia sempena majlis tersebut.

Untuk mengenal lebih jauh tentang seorang pelaut Muslim dari negeri China yang dalam sejarah Indonesia dikenal dengan nama Laksamana Cheng Ho beliau adalah seorang keturunan dari baginda Nabi Muhammad Rasulullah Salalllahu Alaihi Wasallam. Laksamana Sam Po Kong dikenal dengan nama Zheng He, Cheng Ho, Sam Po Toa Lang, Sam Po Thay Jien, Sam Po Thay Kam, dan lain-lain.

Laksamana Sam Po Kong berasal dari bangsa Hui, salah satu bangsa minoriti Tionghoa. Laksamana Cheng Ho adalah sosok bahariawan muslim Tionghoa yang tangguh dan berjasa besar terhadap pembauran, penyebaran, serta perkembangan Islam di Nusantara. Cheng Ho (1371 – 1435) adalah pria muslim keturunan Tionghoa, berasal dari propinsi Yunnan di Asia Barat Daya. Ia lahir dari keluarga muslim taat dan telah menjalankan ibadah haji yang dikenal dengan haji Ma.

Konon, pada usia sekitar 10 tahun Cheng Ho ditangkap oleh tentara Ming di Yunnan. Pangeran dari Yen, Chung Ti, tertarik melihat Cheng Ho kecil yang pintar, tampan, dan taat beribadah. Kemudian ia dijadikan anak asuh. Cheng Ho tumbuh menjadi pemuda pemberani dan brilian. Di kemudian hari ia memegang posisi penting sebagai Admiral Utama dalam angkatan perang.

Pada saat kaisar Cheung Tsu berkuasa, Cheng Ho diangkat menjadi admiral utama armada laut untuk memimpin ekspedisi pertama ke laut selatan pada tahun 1406. Sebagai admiral, Cheng Ho telah tujuh kali melakukan ekspedisi ke Asia Barat Daya dan Asia Tenggara. Selama 28 tahun (1405 – 1433 M) Cheng Ho telah melakukan pelayaran muhibah ke berbagai penjuru dunia dengan memimpin kurang lebih 208 kapal berukuran besar, menengah, dan kecil yang disertai dengan kurang lebih 27.800 awak kapal.

Misi muhibah pelayaran yang dilaksanakan oleh Laksamana Cheng Ho bukan untuk melaksanakan ekspansi, melainkan melaksanakan misi perdagangan, diplomatik, perdamaian, dan persahabatan. Ini merupakan pelayaran yang menakjubkan, berbeda dengan pengembaraan yang dilakukan oleh pelaut Barat seperti Cristopherus Colombus, Vasco da Gamma, atau pun Magelhaes.

Sebagai bahariawan besar sepanjang sejarah pelayaran dunia, kurang lebih selama 28 tahun telah tercipta 24 peta navigasi yang berisi peta mengenai geografi lautan. Selain itu, Cheng Ho sebagai muslim Tiong Hoa, berperan penting dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara dan kawasan Asia Tenggara.

Pada perjalanan pelayaran muhibah ke-7, Cheng Ho telah berhasil menjalankan misi kaisar Ming Ta’i-Teu (berkuasa tahun 1368 – 1398), yaitu misi melaksanakan ibadah haji bagi keluarga istana Ming pada tahun 1432 – 1433. Misi ibadah haji ini sengaja dirahasiakan karena pada saat itu, bagi keluarga istana Ming menjalankan ibadah haji secara terbuka sama halnya dengan membuka selubung latar belakang kesukuan dan agama.

Untuk mengesankan bahwa pelayaran haji ini tidak ada hubungannya dengan keluarga istana, sengaja diutus Hung Pao sebagai pimpinan rombongan. Rombongan haji itu tidak diikuti oleh semua armada dalam rombongan ekspedisi ke-7. Rombongan haji ini berangkat dari Calleut (kuli, kota kuno) di India menuju Mekkah (Tien Fang).

Demikianlah misi perjuangan dan misi rahasia menunaikan ibadah haji yang dijalankan Cheng Ho, dan misi tersebut berhasil. Akan tetapi Cheng Ho merasa sedih karena tidak bisa bebas berlayar menuju tanah leluhurnya, Mekkah, untuk beribadah haji dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Sebelumnya, pada ekspedisi ke-5, armada Cheng Ho telah berhasil mencapai pantai timur Afrika dalam waktu tiga tahun. Dalam kesempatan tersebut, armada Cheng Ho berkunjung ke kerajaan di Semenanjung Arabiah dan menunaikan panggilan Allah ke Mekkah.

Sejarah tentang perjalanan muhibah Cheng Ho, hingga saat ini masih tetap diminati oleh berbagai kalangan, baik kalangan masyarakat Indonesia pada umumnya, maupun masyarakat keturunan Tionghoa. Chneg Ho telah menjadi duta pembauran negeri Tiongkok untuk Indonesia yang diutus oleh kaisar Dinasti Ming pada tahun Yong Le ke-3 (1405). Dalam tujuh kali perjalanan muhibahnya ke Indonesia, Laksamana Cheng Ho berkunjung ke Sumatera dan Pulau Jawa sebanyak enam kali.

Kunjungan pertama adalah ke Jawa, Samudera Pasai, Lamrbi (Aceh Raya), dan Palembang. Sebagian besar daerah yang pernah dikunjungi Cheng Ho menjadi pusat dagang dan dakwah, diantaranya Palembang, Aceh, Batak, Pulau Gresik, Semarang (di sekitar Gedong Batu), Surabaya, Mojokerto, Sunda Kelapa, Ancol, dan lain-lain. Gerakan dakwah pada masa itu telah mendorong kemajuan usaha perdagangan dan perekonomian di Indonesia.

Dalam perjalanan muhibahnya, setiap kali singgah di suatu daerah ia banyak menciptakan pembauran melalui bidang perdagangan, pertanian, dan peternakan. Misi muhibah yang dilakukan Cheng Ho memberikan mamfaat yang besar bagi negeri yang dikunjunginya.

Silsilah lengkap Laksamana Cheng Ho (ditulis dalam bahasa Cina) :

Cheng Ho (Zheng He, Ma He, Ma Sanbao atau Haji Mahmud Shams 1371–1433) bin
Mi-Li-Jin (Ma Ha Zhi ) bin
Mi-Di-Na (Haji) bin
Bai-Yan bin
Na-Su-La-Ding bin
Sau-Dian-Chi (Sayyid Syamsuddin atau Sayyid Ajall (Raja Bukhara)) bin
Ma-Ha-Mu-Ke-Ma-Nai-Ding bin
Ka-Ma-Ding-Yu-Su-Pu bin
Su-Sha-Lu-Gu-Chong-Yue bin
Sai-Yan-Su-Lai-Chong-Na bin
Sou-Fei-Er (Sayid Syafi’i) bin
An-Du-Er-Yi bin
Zhe-Ma-Nai-Ding bin
Cha-Fa-Er bin
Wu-Ma-Er bin
Wu-Ma-Nai-Ding bin
Gu-Bu-Ding bin
Ha-San bin
Yi-Si-Ma-Xin bin
Mu-Ba-Er-Sha bin
Lu-Er-Ding bin
Ya-Xin bin
Mu-Lu-Ye-Mi bin She-Li-Ma bin
Li-Sha-Shi bin
E-Ha-Mo-De bin
Ye-Ha-Ya bin
E-Le-Ho-Sai-Ni bin
Xie-Xin bin
Yi-Si-Ma-Ai-Le bin
Yi-Bu-Lai-Xi-Mo (Ali Zainal Abidin) bin
Hou Sai-Ni (Sayyidina Hussain) bin Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah yang menikah dengan Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam.

*kutipan dari buku “Ahlul Bait Rasulullah SAW & Kesultanan Melayu”

Dari silsilah ini diketahui bahwa Laksamana Cheng Ho memang seorang muslim keturunan Rasulullah Salallahu Alayhi Wasalllam. Moyang Laksamana Cheng Ho adalah Sayyid Syamsuddin, putera Sultan Bukhara yang dikalahkan Ghenghiz Khan. Sayid Syamsuddin jadi tawanan di Peking (Beijing). Karena akhlaknya yang mulia, beliau bukan saja dibebaskan, tapi malah diangkat jadi Penolong Menteri di Yunnan.

-Rizal-note: rujuk buku Prof. Kong Yuan Zhi, “Muslim Tiong Hua Cheng Ho: Misteri Perjalanan Muhibbah di Nusantara”.(fy)

Sumber : Facebook : Para Pencinta Habaib dan Ulama

%d bloggers like this: